Search...>>

Showing posts with label National Parks. Show all posts
Showing posts with label National Parks. Show all posts

8.07.2015

The right traps for turtle conservation research method

Beberapa metode penangkapan kura-kura dan labi-labi secara "manusiawi"

Kebanyakan metode penangkapan kura-kura saat ini dilakukan secara konvensional menggunakan alat-alat yang dapat menyebabkan kematian atau cacat pada tubuh reptil tersebut. Biasanya masyarakat tradisional menggunakan pancing untuk menangkap bulus, atau secara tidak disengaja tertangkap sewaktu memancing ikan. Beberapa pemaburu labi-labi atau kura-kura menggunakan long line bait yakni serangkaian mata pancing yang banyak pada satu benang pancing yang panjang yang kemudian diletakkan disepanjang pinggir sungai ataupun danau, kemudian ditinggal untuk beberapa saat. Dengan demikian, peluang mendapatkan bulus semakin besar. Akan tetapi, selain metode ini sangat menyiksa reptil tersebut, tidak jarang satwa yang terpancing ditemukan mati atau tenggelam karena dibiarkan untuk waktu yang cukup lama. 

Keselamatan dan kesehatan satwa biasanya tidak menjadi hal yang penting bagi para pemburu hewan melata tersebut, karena kebanyakan hewan-hewan berdarah dingin ini ditangkap untuk kemudian dijual sebagai makanan, obat ataupun sebagai hewan piaraan. Namun hal ini menjadi sangat penting bila kegiatan penangkapan kura-kura ini dilakukan untuk kepentingan penelitian dengan tujuan konservasi. Metode-metode yang digunakan untuk menangkap satwa tersebut harus menjamin keselamatan dan kesehatan satwa tersebut dengan meminimalisir stress pada satwa yang ditangkap. Apalagi satwa yang ditangkap akan dikembalikan ke habitat alaminya untuk selanjutnya di monitoring. Akan tetapi, bila dibandingkan dengan metode penangkapan yang konvensional, peluang mendapatkan kura-kura atau labi-labi tersebut jauh lebih kecil, setidaknya berdasarkan pengalaman pribadi penulis sendiri.

Gambar 1. Proses pembuatan perangkap secara manual di lokasi penelitian

2.22.2015

Akankah perluasan areal perkebunan berdampak terhadap perluasan habitat bagi spesies kura-kura atau labi-labi??


I was holding a trapped soft shell turtle
Deforestasi telah menjadi penyebab utama hilangnya keanekaragan flora dan fauna saat ini. Secara umum, Konversi hutan alam menjadi lahan perkebunan dan pertanian sangat berdampak kepada berkurangnya keanekaragaman hayati. Berbagai study telah dilakukan untuk memperkuat alasan mengenai dampak negatif perubahan lansekap hutan menjadi kawasan perkebunan atau pertanian seperti perkebunan kelapa sawit, perkebunan karet, kelapa, dan kawasan monokultur lainnya terhadap kekayaan flora dan fauna. Akan tetapi, beberapa penelitian juga menginformasikan mengenai beberapa kegiatan industri perkayuan dan perkebunan juga dapat menyediakan habitat tambahan bagi satwa liar termasuk satwa yang terancam punah. Sebagai contoh, (Brockerhoff et al., 2008) menyatakan bahwa konversi hutan alam baik primer maupun sekunder menjadi hutan tanaman industri berpotensi membantu upaya konservasi dalam hal menyedikan habitat hutan yang kompleks bagi satwa liar, sebagai kawasan penyangga untuk meminimalisir efek tepi (edge effects), serta dapat menyediakan koridor bagi satwa liar, terutama bila dibandingkan dengan perubahan tutupan lahan lainnya. Pernyataan ini telah menjadi perdebatan dikalangan ilmuwan di dunia. Sehingga, berbagai bukti untuk mendukung atau mematahkan pernyataan tersebut sangat diharapkan.

Beberapa waktu lalu, saat kami melakukan penelitian mengenai konservasi kura-kura dan labi-labi di Taman Nasional Berbak dan sekitarnya (Lubis, 2014a), kami dihadapkan pertanyaan yang sama; apakah konversi hutan alam menjadi kawasan perkebunan berdampak positif terhadap habitat dan populasi reptil di kawasan tersebut. Kawasan Taman Nasional Berbak (Gambar 1) memang dikenal sebagai kawasan ekositem hutan rawa gambut terluas dikawasan Asia Tenggara yang memiliki keanekaragam hayati yang tinggi yang juga menjadi habitat penting bagi beberapa satwa liar yang terancam punah seperti Harimau Sumata (Sumatran Tiger) (Lubis, 2014b). Berdasarkan McCord and Pritchard (2002), kawasan ini juga dikenal menjadi habitat Labi-Labi Bintang (Chitra Chitra Javanensis) yang termasuk dalam list Endangered species serta kura-kura dan labi-labi jenis lainnya. Oleh karena itu, perubahan tutupan hutan rawa gambut di kawasan ini dapat mengakibatkan hilangnya habitat penting bagi satwa liar khususnya herpetofauna yang berakibat pada penurunan populasi yang pada akhirnya menyebabkan kepunahan massal.

8.19.2014

Chasing River Monsters!!...(From My Daily Journal in Berbak NP, Eastern Sumatra)


For people who like watching wildlife TV programmes, the River Monster is one of the best serial TV programs, especially those who like fishing and adventurous sports.This TV programme is brought by Jeremy Wide, a British television presenter and a book author. This guy travels a lot in search for the most fearsome freshwater monsters, tries to catch it and gathers information about people who were attacked by these killers.

Holding a juvenile of  salt water crocodile
So why does it matter?, well I like watching it and just recently had a field work in one of national parks in Sumatra, a peat swamp and lowland forest, located in North-eastern of Sumatra, Indonesia. This TV series and my trip has similar objective which is to save one of the rarest and endangered species of the freshwater giants from extinction and help people understand the important part of these animals for our ecosystem. In our case, the species focus is The Asian narrow-headed soft shell turtle (Chitra javanensis), one of the largest soft shell turtles in the world and endemic to Indonesia. Moreover, the information about this species is very scarce.

It was on a late summer 2014, from June-July, with a researcher from Alaska Zoo US, we headed to one of the locations in Berbak National Park, Air Hitam Laut (AHL) subsection in the Eastern coast as this site was recorded as one of the habitats of this giant soft-shell turtle. However, based on the local people we interviewed, nobody has seen this species in these locations ever. 

Unfortunately, the distribution about this species is still debated by the scientist due to infrequent  researches about it, so more studies related to it are urgently needed. However, based on limited published information about its habitat, this river giant only exist in clear-water rivers with sandy bottom which is very opposite with the condition in Air Hitam Laut  location that has very black water and muddy bottom. But, due to very limited information worldwide about its habitat, we hopefully found this endangered species or maybe other interesting animals in this kind of habitat. So we just carried out our study in this location for almost two months.

8.01.2014

May My Life Be Like A Tortoise


As I walk through life, may my steps be like those of a
tortoise, sure and steady.
No matter what obstacle is placed in his path, he will
eventually find a way round, over or under it.
And if any unthinking person should pick him up and
put him down again facing the opposite way, he will
always turn round, find his original path, and head for his
ultimate goal.
May I be covered like the tortoise with a hard, round,
waterproof shell, to protect me from the knocks and bruises
of life and give me shelter from the storms, and should I ever
fall flat on my back, may a friend always be there to turn me
gently on my feet again.
May my skin be like that of a tortoise, thick and leathery,
so that harsh words spoken in anger will not pierce my
heart.
May my heart be like the legs and claws of a tortoise,
sturdy and strong, and no matter how hard, dry or stony the
ground may be, I shall always be able to dig in it and plant
the seeds of happiness, peace and contentment, and may all
the seeds that I plant in my life grow and flower and bear
wondrous fruits. 
And lastly, may my eyes be like those of the tortoise,
shiny and bright, never looking back at the storm clouds
gathered behind, but always looking ahead to a bright and
shiny future.

Inspired by The British Chelonia Group Newsletter, from the book of Tortoise by Peter Young

6.17.2014

Welcome to Berbak National Park, Jambi Province

It was a nice but super hot sunny day, we arrived in Sultan Thaha airport in Jambi, Sumatera around 1.00 pm. The airport is not that big but so crowded with people. We were fully loaded with over baggage and We had to pay for 50 kg extra baggage when we were checked in Soekarno-Hatta airport, around 19,000 IDR per kg which is not bad. We then hired a car to drop us at Hotel Sovia, close to BKSDA office in Jalan Arif Rahman Hakim, Jambi.

We went to Berbak NP office in Jambi which is unfortunately quite far from our hotel. Luckily Medi has friends here who are studying in Jambi university. They drove us to the national park office, 20 minutes from hotel by motor cycle. We arrived at 3.15 pm. At least we still had time for meeting with the head of the national park and several staffs to talk about our project for Turtles Conservation.

Me Vs Wild (Sumatran Tiger)
They are very welcomed and gave us information we need. However, we cannot go to the park because we haven't got the SIMAKSI, an entry permit to conservation areas. So we'll just to wait for the permit to be approved by PHKA (Ministry of Forestry) in Jakarta. But before go to the field, we need to give a presentation about our turtle project in the NP's office and hopefully we will get all the information we need to make a plan for this trip.

Based on the information we gathered during the meeting, we probably go to the park using the speed boat from Jambi to Air hitam village, the last village before the national park. From there we will use another boat to the park and stay in a camp which were built by ZSL for Sumatran Tiger Conservation program. The camp is located in the junction of two rivers that we could use for the turtle survey. These rivers also become the traditional fishing zone for local people. They use big bubus to trap the big fish, and sometime they catch soft shell turtle accidentally inside the bubu (fish trap made by bamboo or rattan), based on the park rangers' report. This is a good information for us, at least there is a good opportunity to catch turtles or soft shell turtles in this national park. But, of course, these rivers also home for salt water crocodile and false gharials crocodile and also Sumatran tiger!!, so we better not to risk our life for these turtles.

In the last meeting, I had a chance to get a picture of me and a dry preservation of Sumatran tiger (Panthera tigris sumatraensis) in the Head of Balai TN Berbak's office. The tiger was found dead due the electric fence that local people use to keep away of these big cat from their villages. Sadly, this tiger has to die for the sake of the locals' safety. It might be better if they use unharmed methods to keep the safety both human and the wildlife.

5.13.2014

Witnessing the reintroduction of Orangutan in Bukit Batikap Conservation Forest, Central Kalimantan

It was a bright sunny day, just 2 more days for us to leave Bukit Batikap Conservation Forest, Central Kalimantan. Last night was our last observation for herpetofauna survey in this location. Since we had nothing to do, we were requested by BOSF to be involved as volunteers in releasing 8 Orangutan on that day, absolutely we love doing that!!. The released location is located in the downstream of Mosu river, 2 hours boating from the basecamp/Posu River. We went there early in the morning, around 7.30 we left base-camp. Earlier, two boats already gone to the location for some preparation. The sky was so blue and beautiful but the landscape view was quite boring since we have been here for almost three weeks. The view of a dark river water and forest standing along the river. We saw lots of bee hives hanging on big trees. That was a bad sign though for us since this creature has been bothering us everyday in the camp together with their relatives. As expected, the beach in which we had to wait the helicopter that carry the Orang Utan was already full of thousand schools of bees, wasps, flies and other unidentified annoying insects. They were so nasty and were not afraid to human, I got stung several time from below on the feet to the head. Most of us got stunk badly. But the spirit for conservation never goes down, for an only living planet


The First released of orangutan on 20 April 2014

1.03.2012

Wajah cantik para bidadari kecil di tepian hutan

Masa kecil adalah masa yang selalu dirindukan oleh setiap orang dewasa, masa yang paling ceria karena hanya diisi dengan bermain bersama teman-teman, tidak perlu memikirkan pekerjaan yang kadang membuat stres, tidak ada istilah atasan atau bawahan, semuanya sederajat, semuanya hanya bermain dan bermain hingga lelah lalu terlelap dan tumbuh. Moment yang takkan bisa terulang kembali, alangkah bijaknya jika moment itu bisa diabadikan, karena tidak ada cerita yang lebih baik sebaik foto yang walaupun kusam tetapi menyimpan kenangan indah dimasa lalu.

Saya selalu menyempatkan waktu untuk melihat dan mengabadikan keceriaan anak anak yang sedang bermain karena begitu indah dan alami, tanpa make up, tanpa topeng yang biasanya sering dikenakan oleh orang dewasa.  Berikut ini adalah foto-foto anak kecil yang saya kumpulkan selama kunjungan ke beberapa desa disekitar Taman NAsional Kayan Mentarang, Kalimantan Timur kurun waktu 2009-2011.. 

Enjoy the beauty and natural faces from deep inside the forest.....

Sebuah wajah mungil yang muncul malu-malu dari dalam rumah, begitu cantik dan alami. Foto ini saya ambil sewaktu  mampir di rumah salah seorang penduduk desa Pa Raye, sebuah desa yang terletak di dalam kawasan TN Kayan Mentarang, desa yang sangat terisolir, hanya bisa dicapai lewat jalur darat dengan menggunakan motor kurang lebih seharian dari ibu kota kecamatan Krayan, Kab. Nunukan. Mayoritas penduduk adalah masyarakat adat Dayak Lundayeh.

12.30.2011

Kupu-kupu malam yang sedang kencing ???

Jangan ngeres dulu yah :), Kupu-kupu malam yang dimaksud adalah sejenis ngengat yang aktif dimalam hari (nokturnal), bukan kupu-kupu malam dalam tanda "kutip".  Mungkin Anda sudah tau dan sering berjumpa dengan jenis ini, akan tetapi saya bisa jamin 99 % bahwa Anda belum pernah melihat ngengat yang sedang "kencing", karena kejadian ini sangat jarang terjadi disekitar kita. Meskipun saya tidak mengetahui pasti apa yang sedang dilakukan ngengat ini sewaktu saya yang secara tidak sengaja menemukannya dipinggir sungai yang kecil dan jernih dipedalaman hutan di Kalimantan Timur pada Juli tahun lalu. Secara visual bisa dilihat bahwa ngengat ini mengeluarkan cairan dari bagian belakang tubuhnya, dan ini terjadi secara terus menerus. selain mengeluarkan cairan, ngengat ini juga mengeluarkan suara khas yang berulang-ulang .

Saya mencoba menanyakan hal ini kepada Prof. Google, tetapi beliau hanya bisa menjawab satu pertanyaan saja, yakni  nama jenis ngengat tersebut, untuk aktivitas unik yang dilakukan oleh ngengat ini sepertinya beliau belum bisa menjawabnya atau mungkin juga rangkaian pertanyaan saya yang tidak cermat. 

12.24.2011

Kupu-Kupu Trogon atau Raja Brooke di Kalimantan

Diberi nama Kupu-Kupu  Raja Brooke oleh seorang naturalis  ternama yakni Alfred L. Wallace pada tahun 1855, nama tersebut berasal dari nama Raja Sarawak saat itu yakni James Broke. Merupakan jenis Kupu-kupu dari ordo Lepidoptera. Endemik regional. Sebaran hanya di Pulau Kalimantan (Malaysia dan Indonesia). Populasi jarang dan kelestarian jenis ini terancam akibat menurunnya habitat dan aktivitas perdagangan. Status kupu-kupu ini adalah langka dan dilindungi di Indonesia, masuk dalam daftar  CITES Apendiks II.

Kupu-Kupu Trogon jantan, ditemukan di sekitar Air Panas Semolon, Malinau, Kalimantan Timur pada Bulan Oktober 2010 pada habitat sungai berbatu yang mengering.

12.23.2011

Bidadari di TN Kayan Mentarang

Judulnya memang sedikit agak lebai :). Bidadari yang dimaksud merujuk pada jenis kupu-kupu yang pernah saya jumpai sewaktu dalam perjalanan ke Desa Long Titi, desanya suku Dayak Punan Tubu di pedalaman Kalimantan Timur, tepatnya di dalam kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM). Kemungkinan jenisnya adalah Kupu-kupu Bidadari (Cethosia myrina), ditemukan pada habitat sungai kecil yang sedang mengering ditengah yang hutan masih cukup bagus.

12.21.2011

Tersesat di Pedalaman Hutan Borneo (Plus Penampakan!!)

Ini merupakan kisah yang sulit untuk diceritakan karena rada berbau mistis. Saya pun maju mundur untuk mencoba menceritakan kejadian unik ini. Tapi saya sadar bahwa ada pelajaran dibalik semua peristiwa, terlebih lagi kita harus percaya bahwa ada kehidupan lain yang tak kasat mata yang juga harus kita pertimbangkan, terutama di hutan yang benar-benar masih perawan seperti di Borneo. Teringat pepatah mengatakan dimana langit di junjung disitu bumi dipijak. Di kota kita harus mengikuti peraturan yang ada, begitu pula dihutan, ada norma-norma yang tidak boleh kita langgar agar penghuni disana merasa dihargai, terlepas dari terlihat atau tidaknya mereka, yang jelas Believe it or Not, They do exist!! , I can guarantee 1000 % this story is true. Bagi umat islam, mempercayai hal yang ghaib adalah salah satu rukun iman.

Jadi begini ceritanya, masih ingat dengan cerita pada part 2 patroli perbatasan, klo belum baca dulu supaya ceritanya nyambung :).  Karena kejadian ini mungkin masih ada hubungannya dengan cerita part 2 tersebut, dimana tim tidak sengaja telah melakukan kesalahan yang menurut saya agak fatal sehingga berakibat tidak baik. Saya tidak menyinggung cerita ini di kisah perjalanan patroli perbatasan sebelumnya karena rada ga nyambung.

Pada Part 2 tersebut tertulis, dimana tim harus dibagi dua kelompok karena ada giram yang tidak bisa dilewati perahu karna cukup tinggi. Jadinya sebagian tim harus lewat darat dengan membawa semua perbekalan agar tim sungai tidak terlalu berat karena mereka harus menggendong perahu melewati giram tersebut. Nah ditengah perjalanan, tim darat menembak seekor babi yang cukup besar, rencananya akan dibuat lauk makan malam bagi mereka yang bisa memakan babi tersebut. Akan tetapi karena babi tersebut cukup besar untuk digotong bahkan dengan 2 orang juga masih terlalu berat, ditambah lagi medan perjalanan yang naik dan turun. Maka babi tersebut di gantung di suatu tempat agar tidak terlihat satwa lain yang bisa memangsanya, ditambah lagi babi tersebut digantung beberapa meter diatas tanah sehingga babi atau predator lain tidak bisa meraihnya. Rencananya babi tersebut akan dijemput oleh orang kampung yang ikut jalur sungai karena selain kuat, mereka juga sudah biasa menggendong babi ditengah hutan.

12.19.2011

Patroli Perbatasan Indo-Malaysia (Part 5-Habis)

Perjalanan hari keenam. Tugas dan kewajiban sudah dilaksanakan, patroli perbatasan TNKM di wilayah perbatasan NKRI terlasana dengan baik. Walau kondisi tubuh semakin menurun karena kecapean dan kurang nutrisi, sudah dua malam hanya makan nasi putih dengan lauk nasi putih juga, berharap diperjalanan pulang ketemu sumber protein sebagai penambah nafsu makan. Untungnya beban yang dibawa turun semakin ringan, karena sebagian perbekalan  diperjalanan sudah habis, hanya bersisa beberapa liter beras.

Perjalanan pulang hari itu direncanakan  langsung sampai ke pondok dua tanpa harus menginap di pondok tiga. Hal ini untuk menghemat waktu dan mungkin perjalanan akan lebih cepat karena medan yang dilewati sedikit menurun. Jarak antara pondok terakhir dengan kedua lebih kurang 5 km jarak datar di peta, jarak sebenarnya mungkin dua kali lipat dari jarak tersebut.

Jalan yang dilalui sebagian besar adalah sama dengan jalur yang dilewati beberapa hari lalu. Situasi dan kondisi juga mirip, beraneka ragam satwa dan flora ditemui di sepanjang jalan pulang. Selama diperjalanan saya pun menyempatkan untuk memotret obyek yang saya lihat dengan menggunakan kamera Nikon milik kantor dengan hasil lumayan, lumayan bagus dan juga lumayan buruk, hal ini disebabkan karena saya belum bisa mengoperasikannya dengan baik.

Para motoris dan orang lokal yang memandu perjalanan ini sudah jauh berada di depan, kecepatan dan kelihaian mereka berjalan di dalam hutan sangat luar biasa, mungkin karena sudah sering keluar masuk hutan. Sementara anggota tim lainnya jauh tertinggal dibelakang termasuk saya. Beberapakali teringgal dan tersesat ditengah jalan, pacet yang menempel ditubuh sudah tidak lagi dihiraukan, kaki dan baju yang tersangkut duri rotan juga diabaikan, yang penting cepat sampai ketujuan. Tim pun terpecah karena kecepatan bergerak tiap orang berbeda-beda. Tercatat lebih dari dua kali tersesat selam perjalanan, tim kecil yang tersesat biasanya dipandu dengan suara tembakan sebanyak 1-3 kali, dengan demikian mereka akan mengikuti arah suara tembakan dan kembali kejalur yang tepat. 

12.16.2011

Patroli Perbatasan Indo-Malaysia (Part 4)

Hari kelima perjalanan, kondisi topografi semakin curam, sungai-sungai mulai mengecil dan mendangkal dengan banyak cabang anak sungai.  Keberadaan  ikan sungai semakin sedikit atau hampir tidak ada, harapan untuk mancing ikanpun surut bersama surutnya air.Tidak akan ada ikan untuk menemani makan malam. Suara teriakan kancil dan rusa semakin menghilang.  Hanya ada satu kabar yang cukup menghibur saat itu, daerah perbatasan semakin dekat, kurang lebih 3 km lagi untuk sampai ke patok batas, berdasarkan posisi GPS saat itu.  Namun kondisi fisik mulai menurun karena kecapean.

Sialnya, tim kehilangan arah dan sempat tersesat. Berdasarkan peta topografi yang dibawa, seharusnya jalur yang dilalui landai dan tidak menanjak, setelah dikalibrasi ulang antara GPS dengan peta topografi, sudah bisa dipastikan jalur yang dilalui tidak tepat, perjalanan menanjak dan curam tersebut sia-sia, hanya buang waktu dan buang tenaga yang temakin menipis. Setelah beristirahat sejenak, tim melanjutkan perjalanan menurunin punggung bukit tersebut kemudian memutar melewati lembah antara bukit. Melewati beberapa anak sungai dan air terjun kecil yang berundak-undak, seperti anak tangga.

Semakin lama berjalan kondisi topograpi semakin curam, kondisi tajuk pohon yang mulai terbuka dengan didominasi pohon-pohon berdiameter kecil dan pendek yang diselimuti oleh lumut dan tumbuhan merambat seperti paku-pakuan. Sepertinya tim mulai memasuki ekositem pegunungan, beberapa jenis burung pegunungan terbang berkelompok menghiasi dahan-dahan pepohonan. tidak jauh dari pinggiran sungai, tim mendapati habitat anggrek, dimana banyak sekali anggrek yang menempel pada pepohonan, ada beberapa yang sedang berbunga dengan warna coklat pada tengahnya. Ada juga anggrek berukuran kecil, ditemukan pada daerah yang lebih terbuka di puncak bukit. Flora khas lainnya adalah kantong semar yang memiliki bentuk yang khas juga dijumpai banyak di daerah tersebut.

12.15.2011

Patroli Perbatasan Indo-Malaysia (Part 3)

Pagi itu saya terbangun karena sakit perut, alam sepertinya sudah tidak sabar meminta haknya untuk dikembalikan, dan segeralah saya bergegas mencari tempat yang terlindung dipinggiran sungai, sambil merenung lalu membersihkan diri. 
Dari seberang sungai tiba-tiba terdengar suara gaduh binatang, awalnya saya pikir biawak atau babi hutan, akan tetapi binatang tersebut memliki warna putih dilehernya dengan moncong seperti musang, sepertinya jenis lingsang atau berang-berang bersama anak-anaknya yang berjumlah empat ekor, kelihatannya sang induk sedang mengajari anak-anaknya menangkap ikan disungai. Saya pun beranjak dari bilik perenungan lalu bergegas mengambil kamera untuk mencoba mengabadikan momen langka tersebut, ternyata gerak-gerik saya tercium oleh linsang tersebut lalu mereka menghilang masuk kedalam hutan, saat itu saya tidak berhasil, mungkin lain kali. 
Karena penasaran, sayapun menunggu di tempat yang agak terlindung, menanti satwa tersebut kembali kepinggiran sungai. Dan benar saja, kurang dari setengah jam binatang tersebut muncul ditempat yang sama, saya langsung ambil kamera dan jepret beberapa kali, saya mencoba mendekat supaya bisa dapat foto yang lebih jelas namun mamalia air tersebut langsung kabur kembali kehutan.
Karena waktu terus berlalu dan perjalanan keperbatasan masih harus dilanjutkan, saya pun kembali ke kamp dan cuma bisa berharap hasil jepretan tadi memuaskan.  Ternyata saya belum beruntung, hasilnya kurang jelas dan kurang fokus, terlalu jauh dan gelap, cuma berharap moment tersebut terulang kembali nantinya.
 
 
Linsang/Berang-berang, dengan nama latin Lutra sp. Jenis ini beberapa kali ditemukan di Sungai Iwan, berdasarkan hasil survey Biodiversity yang dilakukan WWF pada tahun 2000. Masuk dalam kategori Vulnerable oleh IUCN dan belum merupakan salah satu satwa yang dilindungi. Masyarakat lokal menganggap satwa tersebut adalah hama karena sering memangsa ikan air tawar.

12.14.2011

Patroli Perbatasan Indo-Malaysia (Part 2)

Malam itu sangat cepat berlalu, rasanya seperti tidur beberapa menit saja. Dinginnya pagi hari membuat betah berlama-lama di dalam sleeping bag beralaskan karung beras. Sekitar pukul 7 pagi, sebagian sibuk packing barang sementara lainnya sibuk masak untuk sarapan pagi dan bekal untuk makan siang. Sekitar pukul 9 pagi tim siap melanjutkan perjalanan. 

Perjalan hari ketiga. Tim dibagi menjadi dua kelompok yakni tim darat dan tim air. Perjalanan harus dibagi dua kelompok karena kondisi sungai yang tidak memungkinkan untuk dilewati perahu beserta muatan yang banyak. Giram yang tinggi dan air sungai yang dangkal telah menanti di depan.
Giram Muara Nyatoh. Kondisi giram yang cukup tinggi hingga perahu terpaksa diangkat dan di dorong oleh para motoris. Sementara tim darat sudah berjalan lewat jalur darat. 

12.13.2011

Patroli Perbatasan Indo-Malaysia (Part 1)


Kegiatan patroli perbatasan ini baru pertama kali saya lakukan setelah lebih dari dua tahun bergabung dengan WWF Malinau. Biasanya kegiatan saya fokus pada pembuatan peta dan dokumen terkait manajemen kawasan konservasi TNKM (Taman Nasional Kayan Mentarang) serta sosialisasi ke masyarakat sekitar taman nasional. Pada Bulan April 2011 lalu, saya bersama tim gabungan dari berbagai pihak melakukan kegiatan joint patrol bersama ke perbatasan TNKM yang juga berbatasan dengan negara jiran. Sebanyak 8 orang yang berasal dari Polhut TNKM, TNI Perbatasan, Media KOMPAS, WWF dan masyarakat lokal terlibat dalam misi ini. Daerah target berada di kawasan Hulu Sungai Kihan, yang merupakan percabangan dari Sungai Iwan, Kecamatan Kayan Hilir, Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur. 
Kegiatan ini dilaksanakan karena adanya indikasi kerusakan hutan pada beberapa titik di perbatasan berdasarkan hasil analisis citra Satelit Alos Tahun 2010 ditambah dengan adanya laporan masyarakat lokal yang menyebutkan pernah mendengar adanya aktivitas penebangan di daerah tersebut.

Limnonectes modestus (Boulenger, 1882)

Limnonectes modestus (Boulenger, 1882) adalah salah satu jenis katak dengan karakteristik unik, yakni katak yang mejaga telurnya di malam dan siang hari sampai telur tersebut menjadi berudu. Kondisi habitat yang selalu lembab dan dekat dengan anak sungai membuat katak ini selalu berada tidak jauh dari sarangnya. Sarang biasanya berada pada daun atau batuan yang berada tepat diatas permukaan air dengan arus yang tenang sehingga apabila telurnya menetas maka berudu akan jatuh langsung ke dalam air. Selama pengamatan di salah satu lokasi di daerah Bontosiri, Sulawesi Selatan, jenis ini selalu bertelur pada daun atau tempat yang sama sehingga pada tempat tersebut ada beberapa sarang telur dengan umur yang berbeda. jumlah telur tidak terlalu banyak seperti katak pada umumnya, yakni berkisar 30-60 butir persarang.